Tampilkan postingan dengan label barokalloh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label barokalloh. Tampilkan semua postingan

Selasa, 19 Desember 2017

Kemauan Antara Orang 'Arif Dan Ahli Zuhud



_______________________________________________________

Sumber Kajian: Kitab Nashoihul 'Ibad
Karya: Syekh Muhammad Nawawi Al-Banteniy



Ada yang mengatakan:

هَمُّ الْعَارِفِ الثَّنَاءُ وَهَمُّ الزَّاهِدِ الدُّعَاءُ. ِلأَنَّ هَمَّ الْعَارِفِ رَبُّهُ وَهَمَّ الزَّاهِدِ نَفْسُهُ.

"Kemauan orang 'arif  (ahli makrifat) itu memuji, sedangkan kemauan orang ahli zuhud adalah berdoa. Karena kemauan orang 'arif adalah mengharap ridho Alloh, sedang kemauan ahli zuhud adalah untuk kemanfaatan dirinya"

"Memuji" ialah memuji Alloh dengan segala macam keindahannya. "Berdoa" berarti memohon kebaikan kepada Alloh. Perbedaan antara orang 'arif dan ahli zuhud sudah jelas, bahwa orang 'arif menginginkan kenikmatan surgawi dan terbukanya tabir penutup antara dirinya dan Alloh, sedangkan ahli zuhud menginginkan kemanfaatan bagi dirinya, seperti pahala, bidadari dan sejenisnya.


Perkembangan Dosa Kecil Dan Besar



_______________________________________________________

Sumber Kajian: Kitab Nashoihul 'Ibad
Karya: Syekh Muhammad Nawawi Al-Banteniy



Rosululloh SAW bersabda :

لاَ صَغِيْرَةَ مَعَ اْلإِصْرَارِ وَلاَ كَبِيْرَةَ مَعَ اْلإِسْتِغْفَارِ

"Tidak dipandang sebagai dosa kecil jika dilakukan secara terus menerus dan tidak dinilai sebagai dosa besar kalau disertai dengan istighfar"

Dosa kecil yang secara rutin dan terus-menerus dilakukan akan bertumpuk-tumpuk sehingga menjadi dosa besar. Dengan adanya kehendak atau niat untuk melakukan terus dosa kecil itu akan memperbesar dosa tersebut, karena niat dan kehendak berbuat dosa merupakan perbuatan dosa itu tersendiri.

Yang dimaksud dengan Istighfar, permohonan ampun, sebagaimana yang disinggung didalam hadis diatas adalah bertaubat dengan berbagai macam persyaratan dan aturannya, yakni yang disebut dengan taubat nasuha. Karena hanya dengan taubat nasuha itulah seberapa besarnya perbuatan dosa dan jahat, akan terhapus semuanya.


Meremehkan Dosa Kecil



_______________________________________________________

Sumber Kajian: Kitab Nashoihul 'Ibad
Karya: Syekh Muhammad Nawawi Al-Banteniy




Maqolah dari sebagian hukama' :

لاَ تَحْقِرُوْا الذُّنُوْبَ الصِّغَارَ فَإِنَّهَا تَتَشَعَّبُ مِنْهَا الذُّنُوْبُ الْكِبَارُ

"Jangan meremehkan dosa-dosa kecil, karena berawal dari dosa kecillah munculnya dosa-dosa besar".

Dan lagi, kemurkaan Alloh terkadang timbul justru karena adanya dosa-dosa kecil.


Senang Berdosa Dan Susah Berbuat Taat



_______________________________________________________

Sumber Kajian: Kitab Nashoihul 'Ibad
Karya: Syekh Muhammad Nawawi Al-Banteniy



Maqolah dari sebagian ahli zahid :

مَنْ أَذْنَبَ ذَنْبًا وَهُوَ يَضْحَكُ فَإِنَّ اللهَ تَعَالَى يُدْخِلُهُ النَّارَ وَهُوَ يَبْكِي. وَمَنْ أَطَاعَ وَهُوَ يَبْكِيْ فَإِنَّ اللهَ تَعَالَى يُدْخِلُهُ الْجَنَّةَ وَهُوَ يَضْحَكُ

"Siapa saja yang berbuat dosa sambil tertawa, maka Alloh akan memasukkannya ke neraka sambil menangis. Dan  siapa saja yang berbuat taat sambil menangis, maka Alloh akan memasukkannya ke surga dalam keadaan tertawa"

"Ahli Zahid" adalah orang yang berpola hidup zuhud, yaitu tidak terlalu berkepentingan dengan kesenangan duniawi. Kalaupun ia memerlukannya, itu sekedar menutupi kebutuhan yang sifatnya darurat.


Kandungan maqolah diatas ialah, bahwa orang yang melakukan dosa dengan perasan gembiran dan bangga, kelak ia akan dimasukkan ke neraka dengan penuh penyesalan, disebabkan penyiksaan yang sangat pedih. Orang yang demikian ini pada hakikatnya telah melakukan dosa dua kali, yakni berdosa karena melakukan perbuatan dosa itu sendiri, dan berdosa karena merasa bangga dengan perbuatan dosanya. Sebaliknya orang yang berbuat ketaatan kepada Alloh dengan menangisi dan menyesali perbuatan dosanya dan merasa takut dengan adzab yang akan menimpanya, kelak ia akan dimasukkan ke surga dengan penuh kegembiraan dan kebahagiaan. Orang seperti ini telah melakukan dua perbuatan taat (kebaikan) sekaligus, yakni melakukan ketaatan itu sendiri, dan penyesalan terhadap berbagai dosa yang pernah dilakukannya.

Kemaksiatan Yang Dilandasi Hawa Nafsu Dan Kesombongan



_______________________________________________________

Sumber Kajian: Kitab Nashoihul 'Ibad
Karya: Syekh Muhammad Nawawi Al-Banteniy




Maqolah dari Sufyan ats-Tsauriy ra, seorang guru besarnya Imam Malik:

كُلُّ مَعْصِيَةٍ عَنْ شَهْوَةٍ فَإِنَّهُ يُرْجَى غُفْرَانُهَا: كُلُّ مَعْصِيَةٍ عَنْ كِبْرٍ فَإِنَّهُ لاَ يُرْجَى غُفْرَانُهَا, ِلأَنَّ مَعْصِيَةَ اِبْلِيْسَ كَانَ أَصْلُهَا مِنَ الْكِبْرِ وَزَلَّةَ سَيِّدِنَا آدَمَ كَانَ أَصْلُهَا مِنَ الشَّهْوَةِ

"Setiap kemaksiatan (kedurhakaan) yang dilakukan atas dorongan nafsu syahwat dapat diharapkan pengampunannya. Sedangkan kemaksiatan yang dilakukan atas dorongan kesombongan tidak dapat diharapkan pengampunannya. Karena kemaksiatan yang dilakukan Iblis itu berpangkal dari kesombongannya, sedangkan kesalahan junjungan kita Nabi Adam berasal dari dorongan syahwatnya".

"Syahwat" adalah dorongan keinginan nafsu untuk melakukan sesuatu. Sedangkan "sombong" adalah perasaan lebih unggul daripada  lainnya. Iblis mendurhakai perintah Alloh untuk bersujud menghormat kepada Nabi Adam adalah lebih dikarenakan ia merasa lebih unggul daripada Nabi Adam. Sedangkan kedurhakaan Nabi Adam melanggar larangan makan buah khuldi adalah semata-mata karena dorongan nafzu syahwatnya. Dosa Iblis tidak dapat diampuni, sedang dosa Nabi Adam pada akhirnya diampuni Alloh.


Modal Ketaqwaan dan Modal Duniawi


_______________________________________________________

Sumber Kajian: Kitab Nashoihul 'Ibad
Karya: Syekh Muhammad Nawawi Al-Banteniy



Maqolah dari 'Aisyah r.a. :

مَنْ كَانَ رَأْسُ مَالِهِ التَّقْوَى كَلَّتِ اْلأَلْسُنُ عَنْ وَصْفِ رِبْحِ دِيْنِهِ, وَمَنْ كَانَ رَأْسُ مَالِهِ الدُّنْيَا كَلَّتِ اْلأَلْسُنُ عَنْ وَصْفِ خُسْرَانِ دِيْنِهِ

"Siapa saja yang bermodalkan taqwa, maka lisan-lisan tidak mampu menjelaskan besarnya keuntungan agamanya. Dan siapa saja yang bermodalkan dunia, maka lidah-lidah sama tidak mampu menjelaskan besarnya kerugian agamanya"

Orang yang berpegang teguh pada ketaqwaan, menjunjung tinggi semua perintah Alloh, menjauhkan diri dari perilaku durhaka dan maksiat, dan segala tindakannya didasarkan pada norma syari'at, maka akan memperoleh keberuntungan yang tidak terhingga banyaknya. Sebaliknya, orang yang selalu berpegangan pada norma-norma dan aturan-aturan yang bertentangan dengan syariat akan mengalami yang sangat banyak, sehingga sulit dihitung berapa banyaknya.


Ciri-Ciri Orang Yang Mulia Dan Bijaksana


_______________________________________________________

Sumber Kajian: Kitab Nashoihul 'Ibad
Karya: Syekh Muhammad Nawawi Al-Banteniy



Maqolah dari Yahya bin Mu'adz r.a. :

مَا عَصَى اللهَ كَرِيْمٌ, وَلاَ أَثَرَ الدَّنْيَا عَلَى اْلآخِرَةِ حَكَيْمٌ

"Orang yang mulia tidak akan mendurhakai Alloh dan orang yang bijaksana tidak bakal mengutamakan kepentingan dunia mengalahkan kepentingan akhirat"

Orang yang mulia adalah orang yang berprilaku baik yang meninggikan derajat dirinya dengan cara mempertebal ketaqwaan dan kewaspadaan dalam menghadapi kemaksiatan. Sedangkan orang yang bijaksana adalah orang yang selalu bertindak secara tepat, dan dalam bersikap ia selalu dibimbing oleh akal sehatnya. Dengan kata lain, ia berfikir dulu sebelum berbuat, dan bukannya berbuat dulu baru berfikir.


Mencari Ilmu Dan Mengejar Kemaksiatan



_______________________________________________________

Sumber Kajian: Kitab Nashoihul 'Ibad
Karya: Syekh Muhammad Nawawi Al-Banteniy



Sayyidina Ali r.a. berkata :

مَنْ كَانَ فِيْ طَلَبِ الْعِلْمِ كَانَتِ الْجَنَّةُ فِيْ طَلَبِهِ, وَمَنْ كَانَ فِيْ طَلَبِ الْمَعْصِيَةِ كَانَتِ النَّارُ فِيْ طَلَبِهِ

"Siapa saja yang mencari ilmu, maka surgalah yang ia cari. Siapa saja yang mencari/melakukan kemaksiatan, maka nerakalah yang ia cari"

Maksudnya, barangsiapa yang menyibukkan diri mencari ilmu yang bermanfaat, yakni ilmu pengetahuan yang seharusnya diketahui oleh orang dewasa, pada hakikatnya ia tengah mencari surga dan ridho Alloh. Sebailknya, siapa saja yang ingin melakukan kemaksiatan, pada hakikatnya ia ingin menuju ke neraka dan murka Alloh.



Gelisah akibat Memikirkan Urusan Dunia Dan Akhirat


_______________________________________________________

Sumber Kajian: Kitab Nashoihul 'Ibad
Karya: Syekh Muhammad Nawawi Al-Banteniy



Utsman bin Affan berkata :

هَمُّ الدُّنْيَا ظُلْمَةٌ فِى الْقَلْبِ وَهَمُّ اْلآخِرَةِ نُوْرٌ فِى الْقَلْبِ

"Kegelisahan memikirkan dunia merupakan kegelapan dalam hati dan kegelisahan memikirkan akhirat merupakan cahaya dalam hati".

Maksud maqolah diatas, bahwa kegelisahan yang timbul akibat memikirkan urusan duniawi dapat menyebabkan gelapnya hati, sedangkan kegelisahan yang timbul akibat memikirkan urusan akhirat dapat mengakibatkan hati menjadi terang benderang.


Ya Alloh! Jangan Engkau jadikan kesenangan duniawi ini sebagai target cita-citaku dan tujuan ilmuku. Amin.



Keutamaan Abu Bakar atas Umar

_______________________________________________________

Sumber Kajian: Kitab Nashoihul 'Ibad
Karya: Syekh Muhammad Nawawi Al-Banteniy


Dikutip dai syaikh Abdul Mu'thiy as-Samlawiy, pernah diriwayatkan dari Umar bin Khotthob, bahwa Rosululloh SAW pernah bertanya kepada malaikat Jibril :
صِفْ لِيْ حَسَنَاتِ عُمَرَ, فَقَالَ: لَوْ كَانَتِ الْبِحَارُ مِدَادًا وَالشَّجَرُ أَقْلاَمًا لَمَا حَصَرْتُهَا. فَقَالَ: صِفْ لِيْ حَسَنَاتِ أَبِيْ بَكْرٍ فَقَالَ: عُمَرُ حَسَنَةٌ مِنْ حَسَنَاتِ أَبِيْ بَكْرٍ.

"Jelaskan kepadaku beberapa kebaikan Umar.  Dijawab oleh Jibril: "Andaikata seluruh lautan sebagai tintanya dan pepohonan menjadi penanya, niscaya aku tidak mampu menghitung kebaikannya. Beliau SAW bertanya lagi, "Kemukakan kepadaku beberapa kebaikan Abu Bakar". Lalu dijawab oleh Jibril, "Umar itu sendiri merupakan salah satu kebaikan dari beberapa kebaikan Abu Bakar".





Mempersiapkan Bekal Sebelum Wafat



_______________________________________________________

Sumber Kajian: Kitab Nashoihul 'Ibad
Karya: Syekh Muhammad Nawawi Al-Banteniy




Abu Bakar Ash-Shidiq r.a. berkata:

مَنْ دَخَلَ القَبْرَ بِلاَ زَادٍ فَكَأَنَّمَا رَكِبَ الْبَحْرَ بِلاَ سَفِيْنَةٍ
"Siapa saja yang masuk kubur tanpa bekal, bagaikan dia mengarungi lautan tanpa perahu"

Tentu saja dia akan tenggelam, kecuali jika diselamatkan oleh Alloh SWT.
                   ماالْمَيّت في قبره إلاّ كالغريق الْمغوَّث                    
"Tiada seorang mayit didalam kuburnya melainkan dia seperti orang tenggelam yang lagi meminta pertolongan"


Bergaul Dengan Ulama Dan Memperhatikan Nasihat Hukama'


_______________________________________________________

Sumber Kajian: Kitab Nashoihul 'Ibad
Karya: Syekh Muhammad Nawawi Al-Banteniy



Rosululloh SAW bersabda :

عَلَيْكُمْ بِمُجَالَسَةِ العُلَمَاءِ وَاسْتِمَاعِ كَلاَمِ الحُكَمَاءِ, فَإِنَّ اللهَ تَعَالَى يُحْيِى القَلْبَ الْمَيِّتَ بِنُوْرِ الحِكْمَةِ كَمَا يُحْيِى اْلأَرْضَ الْمَيِّتَ بِمَاءِ الْمَطَرِ
"Kalian seharusnya bergaul dengan ulama dan mendengarkan wejangan hukama' (ahli hikmah), karena Alloh SWT menghidupkan kembali hati yang mati dengan cahaya hikmah sebagaimana menghidupan kembali tanah yang mati (gersang) dengan air hujan".

Kata "hikmah" berarti ilmu yang bermanfaat, sedangkan "hukama'" (jamak dari kata hakim) artinya orang yang ahli hikmah. Yang dimaksudkan "hukama'" dalam hadis tersebut adlah orang yang ahli hikmah yang mengetahui Dzat Allah, selalu serasi antara ucapan dan tindakannya. Sedangkan yang dimaksud dengan  'ulama' adalah orang alim (berilmu) yang mengamalkan ilmunya.

At-Tirmidzi meriwayatkan dari Abu Hanifah, katanya:
جالسوا الكُبَراء وسائلوا العلماء وخالطوا الحكماء
"Bergaullah dengan kubara'; bertanyalah kepada ulama' dan bercampurlah dengan hukama'"

Menurut riyawat lain:
جالس العلماء وصاحب الحكماء وخالط الكبراء
"Bergaullah dengan ulama'; temanilah hukama' dan bercampurlah dengan kubara'"

Dalam kaitannya dengan persoalan ini, ulama dapat dibedakan kedalam tiga tingkatan :
a.   'Ulama', yaitu orang 'alim (berilmu) yang mengetahui hukum-hukum Alloh. Mereka ini memiliki hak untuk memberi fatwa.
b.   Hukama', yaitu orang 'alim yang mengetahui Dzat saja. Bercampur atau bergaul dengan mereka ini perangai dan karakter kita menjadi terdidik, karena hati mereka bersinar cahaya makrifat (mengenali Alloh dan rahasia-rahasia-Nya), dan dari jiwa mereka membias sinar keagungan Alloh.
c.   Kubara', yaitu orang yang memiliki kedua-duanya.

Bergaul akrab dengan ahli Alloh tersebut akan mendatangkan sikap dan perangai yang mulia dan kemampuan memberikan manfaat tanpa memakai ucapan diatas kemampuan yang memakai ucapan. Oleh karenanya, siapa saja yang membawa manfaat kepadamu tanpa menggunakan ucapan, maka ucapannya pun akan bermanfaat untukmu. Kalau tidak demikian, ucapannya itu tidak membawa manfaat.

As-Suhrowardi berkeliling di masjid Al-Khaif Mina sambil meneliti dengan cermat wajah-wajah orang yang ada di sana. Sewaktu seseorang menanyakan tandakannya itu, dia mengatakan, "Alloh sebenarnya memiliki beberapa orang yang jika  memandang orang lain, maka mendatangkan kebahagiaan bagi orang yang dipandangnya."

Rosululloh SAW bersbda:
سيأتي زمان على أمّتي يفرّون من العلماء و الفقهاء فيبتليهم الله بثلاث بليّات: أولاها يرفع الله البركة من كسبهم والثانية يُسلّط الله تعالى عليهم سلطانا ظالما: والثالثة يخرجون من الدنيا بغير إيمان.

"Akan datang suatu masa, dimana umatku sama lari meninggalkan para ulama dan fuqoha' (ahli hukum), maka Alloh menimpakan kepada mereka tiga macam bencana: pertama, Alloh mencabut keberkahan dari usaha mereka;  kedua, Alloh menguasakan pada mereka dengan penguasa yang zhalim; ketiga, mereka meninggal dunia dalam keadaan tidak beriman"

Buah Dari Keimanan Dan Kepedulian Sosial


_____________________________________

Sumber Kajian dari  Kitab Nashoihul 'Ibad
_____________________________________


Rosululloh SAW bersabda:

خَصْلَتَانِ لاَ شَيْئَ أَفْضَلُ مِنْهُمَا: الإِيْمَانُ بِاللهِ وَالنَّفْعُ لِلْمُسْلِمِيْنَ
"Ada dua hal, tiada sesuatu pun yang melebihi keutamaan keduanya, yaitu iman kepada Alloh dan berbuat manfaat kepada kaum muslimin".

Rosululloh SAW bersabda :

من أصبح لا ينوي الظّلمَ على أحد غُفر له ما جنى, ومن أصبح ينوي نُصرة المظلوم وقضاء حاجة المسلم كانت له كأجر حجّة مبرورة
"Siapa saja yang bangun pagi dalam keadaan tidak memiliki niat menzhalimi seorangpun, maka diampuni dosa yang telah dilakukannya, dan siapa saja yang bangun pagi dalam keadaan memiliki niat menolong orang yang dizhalimi dan (berniat) mencukupi kebutuhan orang muslim, maka ia memperoleh pahala sebesar pahala haji mabrur".
Rosululloh SAW bersabda lagi :
أحبّ العباد إلى الله تعالى أنفع الناس للناس, وأفضل الأعمال إدخال السرور على قلب المؤمن يطرد عنه جوعا او يكشف عنه كربا او يقضي له دَينا. وخصلتان لا شيئ أخبث منهما: الشرك بالله والضرّ بالمسلمين.
"Hamba yang paling dicintai Alloh adalah orang yang paling bermanfaat untuk orang lain dan amal perbuatan yang paling afdhol adalah membuat senang hati kaum mukmin dengan cara melenyapkan kelaparan darinya, menghilangkan kesusahannya, atau melunasi hutangnya. Dan ada dua hal yang tiada sesuatupun yang lebih keji daripada keduanya, yaitu mensekutukan Alloh dan mendatangkan bahaya kepada kaum muslimin".
Membahayakan kaum muslimin dapat berbentuk membahayakan badannya dan harta bendanya. Karena seluruh perintah Allah itu pada dasarnya berpangkal pada dua hal, yaitu mengagungkan Alloh dan menyayangi makhluk-Nya, sebagaimana yang disinggung didalam firman Alloh :
وَأَقِيمُوا الصَّلاَةَ وَءَاتُوا الزَّكَاةَ ....
"Dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat … " (QS Al-Baqarah,[2]: 43)
... أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ ....
"… Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, … " (QS Luqman,[31] : 14)
Diriwayatkan dari Uwaisy al-Qorniy, katanya: Dalam suatu pengembaraan, aku bertemu dengan dengan seorang pendeta. Kataku kepadanya, "Wahai pendeta! Perkara apa yang dapat menaikkan derajat seorang hamba?". Jawab si pendeta, "Mengembalikan hak-hak orang yang ia zhalimi dan meringankan beban tanggung jawab. Karena amal perbuatan hamba tidak dapat naik ke sisi Tuhan jika ia masih memiliki beban tanggung jawab atau berbuat zhalim".


_____________________



SHOLAWATAN RINDU KANJING NABI MUHAMMAD




Perintah bersholawat pada Nabi Muhammad SAW dinyatakan Alloh SWT dalam firmanNya :

إِنَّ اللَّهَ وَ مَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ,  يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi [Muhammad]. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya”.    (QS Al-Ahzab: 56)

Dalam sebuah hadis Shahih-pun diceritakan, bahwa Rosululloh SAW pernah bersabda :

مَنْ صَلَّى عَلَيَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرَةً
Barangsiapa yang bersholawat untukku sekali, maka Allah membalas shalawatnya sepuluh kali” (HR Muslim, dari Abu Hurairoh)


Orang yang sering menyebut-nyebut nama Nabi SAW dengan Bersholawat-salam padanya merupakan salah satu tanda Kecintaannya kepada beliau.
Sebaliknya, orang yang jarang menyebut-nyebut nama beliau dan tidak bersholawat ketika mendengar nama beliau disebut-sebut, dinyatakan oleh beliau sebagai orang yang bakhil, kikir, dan pelit. Sebagaimana sabdanya :

الْبَخِيْلُ مَنْ مَنْ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ
Orang bakhil/kikir ialah orang yang tidak membaca shalawat untukku sewaktu diriku disebut-sebut dihadapannya” (HR Imam Tirmidzi, dari Ali bin Abi Thalib, dengan status hadis : hasan shahih)


Bentuk (shighot), lafal, teks dan redaksi sholawat Nabi beraneka ragam. Ada yang ma’tsur, yaitu Sholawat Nabi yang redaksinya berasal dari dan sesuai dengan yang pernah diucapkan oleh Nabi SAW. Dan ada yang ghoiru ma’tsur, yaitu Sholawat Nabi yang redaksinya bukan dari Nabi SAW, tetapi berasal dari susunan para ulama’, sebagai wujud ungkapan cinta mereka kepada beliau, dengan  ungkapan dan gaya bahasa masing-masing.

SHOLAWATAN RINDU NABI MUHAMMAD SAW berikut ini barangkali merupakan salah satu bentuk (shighot) sholawat “ghoiru ma’tsur” yang sengaja disusun oleh penyusunnya dalam rangka mengenang dan memperingati Kelahiran Beliau (Maulidurrosul), 12 Robi'ul Awal

Semoga ada manfaat, berkah dan maslahahnya. Amin.



اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدْ  #   يَا رَبِّ صَلِّ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ

فِيْ حُبِّ سَيِّدِنَا مُحَمَّدْ  #  نُوْرٌ لِبَدْرِ الْهُدَى مُتَمَّمْ
 قَلْبِيْ يَحِنُّ اِلَى مُحَمَّدْ  مَا زَالَ مِنْ وُجْدِهِ مُتَيَّمْ
 مَالِيْ حَبِيْبٌ سِوَى مُحَمَّدْ  خَيْرِ الرَّسُوْلِ النَّبِي الْمُكَرَّمْ



Hatiku Rindu Nabi MUHAMMAD #
Ingin slalu bertemu dengannya

Kekasihku hanyalah MUHAMMAD #
Nabi dan Rosul paling terhormat

Jika ingin Syafa’at MUHAMMAD #
Bersholawat-salam-lah padanya

Pintu surga tertulis MUHAMMAD #
Bersanding dengan Asma’-nya Alloh

Alam tercipta karna MUHAMMAD #
Adam trampuni berkat namanya

Taurat, Injil menyebut MUHAMMAD #
Nabi akhir zaman juru slamat

Smua nunggu lahirnya MUHAMMAD #
Pembawa rahmat, berkah, syafa’at

Di dunia lahir Nabi MUHAMMAD #
Senin dua blas Robi’ul Awwal

Makkah kota lahirnya MUHAMMAD #
Waktu Abrahah serang Baitulloh

Arab Quraisy sukunya MUHAMMAD #
Pada Nabi Isma’il, bernasab

Abdulloh bapak Nabi MUHAMMAD #
Aminah ibu yang melahirkan

Abdul Mutholib kakek MUHAMMAD #
Mnetek pada Halimah Sa’diyah

Jadi Yatim, kecilnya MUHAMMAD #
Ditinggal wafat ibu-bapaknya

Abu Tholib pamannya MUHAMMAD #
Pernah ngajaknya berdagang ke Syam

Khodijah isteri Nabi MUHAMMAD #
Lahirlah enam putra-putrinya

Umur Mpat puluh tahun MUHAMMAD #
Dia jadi sayyidul Anbiya’

Abu Bakar sahabat MUHAMMAD #
As-Shiddiq orang pertama iman

Pemula iman pada MUHAMMAD #
Ali, Zaid dan Siti Khodijah

Penutup Nabi itu MUHAMMAD #
Pembawa Islam ke sluruh bangsa

Ngaku Nabi setelah MUHAMMAD #
Pembohong teman Iblis terlaknat

Qur’an kitabnya umat MUHAMMAD #
Pedoman hidup umat sejagad

Al-Qur’an akhlak nabi MUHAMMAD #
Karenanya manusia terhormat

Berkat trutusnya Nabi MUHAMMAD #
Hidup jadi selamat-bahagia

Ngaku jadi umatnya MUHAMMAD #
Cintai dan tladani akhlaknya


اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدْ  يَا رَبِّ صَلِّ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ






Teks Berbahasa Jawa Bacaan TALQIN Untuk Mayit

بسمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ. لآاله الاّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاشَرِيْكَ لَهُ لَهُ المُلْكُ وَلَهُ الحَمْدُ يُحْيِى وَيُمِيتُ وَهُوَ ...