Senin, 28 Mei 2018

Tatacara Mengkafani Jenazah




A. TATA ATURAN YANG BERKAITAN DENGAN MENGKAFANI JENAZAH

1. Hukum Mengkafani jenazah muslim adalah fardhu kifayah.
2. Biaya kafan sepenuhnya diambilkan dari harta waris. Dalam kondisi jenazah tidak mampu, kain kafannya menjadi tanggungan dari ahli waris.
3. Jenis Kain kafan boleh dari bahan apa saja, yang penting bukan dari bahan sutra untuk jenazah lelaki. Disunnahkan berwarna putih bersih, bagus dan lebar.  Panjang dan lebarnya relatif sama, yang sekiranya dapat menutupi seluruh badan jenazah.
4. Ukuran Kain Kafan :
a). Kafan Darurat : yaitu minimal satu lembar kain, sekedar dapat menggugurkan kewajiban (dapat menutupi seluruh badan).
b). Kafan kifayah : Kafan laki-laki terdiri dari dua potong kain, yaitu sarung dan selimut. Sedangkan untuk wanita terdiri dari dua potong kain, ditambah kerudung untuk menutupi kepala dan muka.
c). Kafan sunnah (kafan yang  sempurna) .
Untuk kafan laki-laki terdiri dari 3 lapis atau 5 lapis. Kafan 3 lapis tersebut berupa 3 lapis kain kafan yang dipakai secara keseluruhan (tanpa gamis dan surban). Sedangkan kafan 5 lapis adalah terdiri dari kafan 3 lapis di tambah gamis dan surban.
Sedangkan Untuk kafan Perempuan jika dikafani 3 lapis, adalah berupa 3 lapis kain kafan yang dipakai secara keseluruhan (tanpa jarit dan kerudung). Jika dikafani 5 lapis, adalah terdiri dari kafan 3 lapis kain ditambah kain untuk jarit dan kerudung. Atau terdiri dari 2 lapis kain ditambah jarit , gamis dan kerudung.
d). Jenazah orang yang mati syahid (gugur dalam perang jihad fi sabilillah), kain kafannya berupa pakaian yang ia pakai sewaktu wafat, dan jika belum memenuhinya /menutup seluruh tubuhnya, maka wajib disempurnakan dengan penutup lainnya.
5. Pada kasus jenazah orang yang kecelakaan atau yang tubuhnya terdapat bekas luka, maka darah yang keluar setelah mayat dimandikan, menurut qoul yang ashoh harus dibersihkan dulu, baik sebelum maupun setelah dikafani, karena sucinya jenazah menjadi syarat sahnya sholat jenazah. Namun menurut Imam Baghowi, jika darah itu keluar setelah dikafani, maka tidak wajib dihilangkan.
Dalam hal darah terus keluar dan sulit dihentikan, maka wajib disumbat sampai tidak keluar lagi, diqiyaskan dengan orang yang “beser”. Jenazah dibungus plastik (seluas/selebar kain kafan) sebelum dibungkus kain kafan. Dalam masalah ini, jenazah wajib segera disholati.


B. PERSIAPAN MENGKAFANI JENAZAH

1. Menyiapkan kain kafan (1, 3 atau 5 lapis) dan sunnah yang berwarna putih bersih. Sunnah ditambahkan selembar potongan kain yang dibentuk mirip “sempak” (celana dalam), baik untuk jenazah lelaki maupun perempuan.
2. Menyiapkan tali dari sisa sobekan kain kafan untuk mengikat bagian tertentu pada bungkusan jenazah seperti pada bagian atas kepala, leher, perut, lutut, mata kaki dan bawah telapak kaki.
Untuk jenazah perempuan, perlu ditambahkan tali untuk mengikat pada bagian atas dan bawah payudaranya, agar tidak bergerak-gerak sewaktu jenazah diusung ke pemakaman.
3. Menyiapkan serbuk kayu cendana atau gerusan (serbuk) kapur barus secukupnya, dan wangi-wangian yang lain (minyak, kembang dan sejenisnya).
4. Menyiapkan kapas secukupnya, dan peralatan lain seperti gunting dan lain-lain.


C. TATACARA MENGKAFANI JENAZAH

1. Meletakkan tali kafan diatas lantai, dipan, atau tempat tidur, dan menatanya sesuai dengan bagian-bagian yang akan diikat.
2.       Membentangkan beberapa lapis kain kafan di atas tali tersebut. Adapun urut-urutan lapisan / tumpukan kain, mulai dari bawah sampai ke atas, adalah sebagai berikut :
a. Jika terdiri dari 3 lembar kain, maka ukuran panjang dan lebarnya relatif sama yang sekiranya dapat menutupi seluruh badan. Sebaiknya ditambah 1 sobekan kain untuk celana dalam, diletakkan di bagian pantat.
b. Jika terdiri dari 5 lapis kain, maka urutannya sebagai berikut :
1) Untuk jenazah lelaki
- 3 lapis kain putih yang dapat menutup seluruh tubuh
- 1 lapis ’imamah (sorban)
- 1 lapis baju gamis
- ditambah 1 sobekan kain untuk celana dalam, yang dibentangkan di bagian pantat
2) Untuk jenazah perempuan :
- 2 lapis kain putih yang dapat menutup seluruh tubuh
- 1 lapis potongan kain untuk kerudung
- 1 kain baju kurung/gamis
- 1 lapis kain izar (jarit/sewek) yang biasa dipakai untuk menutup anggota mulai dari dada sampai lutut
- ditambah 1 sobekan kain untuk celana dalam
3. Masing-masing lapis kain tersebut di atas (item 2) sunnah ditaburi dengan serbuk kayu cendana, atau gerusan serbuk kapur barus, atau disemprot wewangian yang lain.
4. Jenazah diangkat dan diletakkan di atas bentangan kain yang telah disiapkan tersebut, dalam posisi tidur terlentang.
5. Tubuh jenazah sunnah ditaburi dengan serbuk kayu cendana atau gerusan kapur barus, atau diolesi minyak wangi. Tangannya disedekapkan diatas dadanya, dengan posisi telapak tangan kanan memegang telapak tangan kirinya. Atau tangannya dibiarkan terbujur di samping kanan-kiri lambungnya.
6. Seluruh lubang-lubang pada tubuh dan anggota tubuh tertentu yang digunakan sujud disunnahkan untuk ditutupi dengan kapas yang sudah ditaburi dengan serbuk kayu cendana atau gerusan kapur barus, seperti : kedua lubang telinga, kedua mata, hidung, mulut, qubul (kemaluan), dubur dan sela-sela pantat, pusar, dahi, telapak tangan, sela-sela ujung jari kaki, kedua lutut, dan semua bekas luka-luka di tubuh.
Di sela-sela kedua paha juga sebaiknya disumbat dengan kapas tersebut, lalu keduanya diikat dengan tali dari sisa sobekan kain kafan
7. Semua rontokan rambut-rambut sewaktu memandikan atau lainnya dimasukkan dan diikutsertakan untuk dibungkus didalam kain kafan bersama jenazahnya.

8.  Proses pembungkusan
a. Jenazah laki-laki :
*Jika terdiri dari 3 lapis kain, maka satu persatu dari ketiga lapisan kain ditangkupkan mengitari /membungkus tubuh jenazah.
*Jika terdiri dari 5 lapis kain : mula-mula mengenakan sobekan kain untuk celana dalam, lembaran kain untuk sorban dan baju gamis, kemudian menangkupkan satu persatu dari ketiga lapis kain membungkus tubuh jenazah.
b. Jenazah Perempuan :                                                    
*Jika terdiri dari 3 lapis kain : Mula-mula mengenakan sobekan kain untuk celana dalam, kemudian menangkupkan satu persatu dari ketiga lapisan kain mengitari /membungkus tubuh jenazah.
*Jika terdiri dari 5 lapis kain : mula-mula mengenakan sobekan kain untuk celana dalam, lembaran kain izar untuk menutup dada sampai lutut, lembaran kain baju kurung dan kerudung, kemudian menangkupkan satu persatu dari kedua lapis kain mengitari/membungkus tubuh jenazah.
9. Tali-tali kafan yang telah tersedia diikatkan pada posisinya masing-masing, dengan cara ikatan “tali simpul” (kata orang jawa tali wangsul). Hal ini dimaksudkan agar tali tersebut mudah dilepas sewaktu jenazah berada di liang kubur.
10. Setelah selesai pembungkusan, jenazah diangkat dan diletakkan di tempat yang pantas dalam kondisi membujur ke utara (kepala di utara dan kaki di selatan), lalu ditutupi kain  dan siap untuk disholati.
11. Tidak ada do'a khusus yang dibaca waktu mengkafani, namun menurut Imam An-Nawawi dalam kitab Al-Adzkar, bahwa  orang yang  mengkafani janazah danjurkan memperbanyak bacaan dzikir



Tatacara Memandikan Jenazah


                                     
Ada 4 kewajiban (kifayah) terhadap jenazah :
1). Memandikan,   
2) Mengkafani,   
3) Mensholati,  dan 
4) Menguburkan


A. BEBERAPA PERSOALAN YANG BERKAITAN DENGAN MEMANDIKAN JENAZAH

1.  Air yang digunakan memandikan jenazah adalah air yang suci mensucikan. Adapun batas minimal memandikan adalah menghilangkan najis dan membasuh dengan air suci seluruh anggota badan yang nampak, termasuk bagian dalam kulup orang yang belum dikhitan.
2. Memandikan jenazah tidak diwajibkan niat. Dengan demikian, sah hukumnya memandikan jenazah tanpa niat. Namun jika disertai dengan niat, itu lebih baik dan sunnah hukumnya.
3. Jenazah orang yang mati karena tenggelam wajib dimandikan lagi.
4. Orang yang boleh memandikan jenazah ialah orang yang sama jenis kelaminnya.
     Isteri boleh memandikan jenazah suaminya, dan suami boleh memandikan jenazah isterinya. Akan tetapi disunnahkan untuk tidak sampai menyentuh kulit jenazah tersebut
5.  Setelah jenazah dimandikan, ternyata masih ada najis yang keluar dari tubuhnya (misalnya kotoran, air kencing, darah, nanah dan sejenisnya), ia tidak wajib dimandikan ulang, akan tetapi cukup dibersihkan dari najis tersebut.
6. Jenazah yang sudah terlanjur dikubur, namun dalam keadaan belum dimandikan, kuburannya wajib digali dan jenazahnya diambil untuk dimandikan, dengan syarat jenazah tersebut belum rusak atau berubah baunya. Jika sudah rusak atau berbau, maka haram menggali kuburannya.
7. Memandikan jenazah disunnahkan di tempat yang tertutup dan beratap.
8. Jenazah yang wajib dimandikan adalah jenazah
a. orang Muslim
b. Bayi lahir yang terdapat tanda- tanda kehidupan, seperti: menangis, menetek atau bergerak.
c. Bayi keguguran
d. Jenazah yang didapati sebagian jasadnya
e. Janazah orang mati bukan karena syahid
9. Orang yang berhak memandikan jenazah adalah orang Islam.  Orang non Islam tidak berhak, karena memandikan jenazah adalah bernilai ibadah.


B. KRITERIA BAGI ORANG YANG MEMANDIKAN JENAZAH

Orang yang memandikan dianjurkan :
1. Amanah dan mengerti hukum-hukum memandikan jenazah.
2. Menjaga pandangannya, kecuali sekedar kebutuhan
3. Sebaiknya merahasiakan apa yang ia lihat.
4. Menutupi janazah dari pandangan manusia.
5. Menyebarkan kebaikan – kebaikan yang nampak.
6. Memandikan di tempat yang beratap/tertutup.
7. Apabila memerlukan tenaga bantuan hendaknya minta kepada orang yang berhak.
8. Orang-orang yang tidak berkepentingan makruh  untuk memandikan janazah.
9.  Mengasapi dengan kayu gaharu atau bau-bauan lain di dekat pemandiannya.
10.  Dimandikan dalam keadaan tertutup kain.
11.  Dimandikan dengan air dingin.
12.  Tidak melihat auratnya.
13.  Tidak menyentuh auratnya tanpa memakai sarung tangan.
14.  Hendaknya mandi setelah selesai memandikan


C.  PERSIAPAN MEMANDIKAN JENAZAH

1.  Sebaiknya janazah di letakkan pada balai-balai, sekelilling dan atasnya ditutup dengan tabir
2. Apabila keadaan janazah terputus-putus, maka bagian yang terputus dilekatkan atau disam-bung satu dengan yang lain.
3. Apabila bagian janazah ada yang terputus, seperti gigi atau rambut, maka harus dicuci dan dimasukkan dalam kafannya.
4. Orang yang memandikan janazah  sunnah mendudukkan janazah dengan pelan-pelan, dengan cara duduk condong ke belakang sambil meletakkan tangan kanannya pada pundak kiri  janazah sedang telapak tangan kanannya memegangi tengkuk  janazah agar kepalanya tidak lunglai dan menyandarkan punggung janazah pada lutut kanannya. Kemudian tangan kirinya menekan perut janazah agar sisa- sisa kotoran yang ada dalam perut keluar
5. Ketika perut janazah ditekan-tekan, dengan halus, hendaknya ada orang yang membantu:
a. Menyiramkan air ke tubuh janazah, agar kotoran yang keluar tidak mengotori badannya.
b. Memperbanyak pengasapan dengan kemenyan atau kayu gaharu agar janazah tidak bau.
c. Selanjutnya, janazah di tidurkan seperti sediakala
6.  Ketika akan memandikan, aurat janazah harus ditutupi. Akan tetapi jumhur ulama’ memper-bolehkan mayat dilepas pakaiannya agar lebih bersih dan terjaga dari najis.
7.  Sedang menurut madzhab Syafi’i sebaiknya janazah dimandikan dalam keadaan tertutup kain.
8. Tempat memandikan janazah posisi kepala lebih tinggi agar air cepat mengalir.
9.  Orang yang memandikan janazah sebaiknya menggunakan dua lembar sarung tangan,  satu lembar untuk membersihkan qubul dan dubur dan satu lembar lagi untuk menggosok seluruh tubuh.
10. Mempersiapkan tempat air yang dapat terhindar dari percikan yang mengotori atau menjadikan musta'mal.


D. TATACARA MEMANDIKAN JENAZAH

1. Jenazah dibawa masuk kedalam “kamar mandi buatan” dan dibaringkan di atas bangku, tempat tidur atau sejenisnya yang didesain sedemikian rupa, dengan tujuan  agar air siraman dapat mengalir dengan lancar ke bawah dan tidak menggenang.  Atau jenazah dipangku oleh tiga atau empat orang.
2. Tubuh jenazah disunnahkan dalam keadaan tertutup kain tipis, bukan dalam keadaan telanjang.
3.   Dalam posisi jenazah terbaring telentang, petugas membersihkan semua najis dan apa saja yang menghalangi sampainya air ke kulit jenazah.
4.   Petugas mendudukkan jenazah secara pelan, santun dan lembut dalam keadaan condong ke belakang, kemudian menekan dan mengurut-urut perutnya secara pelan dengan tangan kiri, agar sisa-sisa kotoran keluar dari dalam perut. Sementara itu, pembantunya menuangkan air ketika petugas membersihkan kotoran tersebut sampai bersih.
5.   Gigi jenazah disiwaki atau digosok dengan jari telunjuk kiri petugas yang terbalut kain, atau dengan sikat gigi, kayu arak, dan sejenisnya.
6. Demikian pula lubang hidung dan telinga juga perlu dibersihkan dari kotoran yang menempel, dengan menggunakan jari kelingking kiri petugas yang terbalut kain, atau dengan alat pembersih lainnya.
7. Bagian kepala dan jenggotnya dikeramasi dengan shampho, kemudian disisir secara halus dan perlahan agar rambut tidak rontok.
8.  Membersihkan kotoran pada kuku tangan dan kuku kaki.
9. Mengguyurkan air yang sudah dicampur dengan daun bidara ke tubuh jenazah dan sunnah disertai dengan niat memandikan jenazah.
  Lafazh niatnya :

نَوَيْتُ آدَاءَ الْغُسْلِ عَنْ هَذَا الْمَيِّتِ  / عَنْ هَذِهِ الْمَيِّتَةِ   لِلَّهِ تَعَالَى

 “Aku sengaja (niat) memandikan mayit ini karena Alloh Ta’ala
Kemudian menggosok-gosok anggota badannya dengan menggunakan air sabun, mulai dari bagian leher sampai telapak kaki sebalah kanan, disusul anggota badan bagian depan sebelah kiri.
Kemudian jenazah dimiringkan dengan posisi menghadap petugas yang memandikan (lambung kiri berada di bawah), dan jangan sampai tengkurap.
Selanjutnya mengguyurkan air dicampur daun bidara atau sabun pada anggota badan bagian belakang sebelah kanan, mulai dari tengkuk sampai telapak kaki, sambil menggosok-gosok dan menyabuninya, kemudian disusul anggota badan sebelah kiri.
10. Mengguyurkan air jernih (tanpa campuran daun bidara/sabun) untuk membilas basuhan pertama, dimulai dari arah kepala sampai telapak kaki dengan cara seperti basuhan pertama di atas.

11. Mengguyurkan lagi seluruh tubuh jenazah dengan air yang dicampur sedikit kapur barus (yang sekiranya tidak sampai merubah status kemutlakan air).             
12. Mengulang basuhan/guyuran 3 atau 5 kali
13. Mewudlukan janazah Setelah semua selesai dikerjakan, dengan wudlu yang sempurna disertai  niat :

نَوَيْتُ الْوُضُوْءَ الْمَسْنُوْنَ لِهَـذَا الْمَيِّتِ  /   لِهَذِهِ الْمَيِّتَةِ  لِلَّهِ تَعَالَى                                          

Aku niat melakukan wudhu’ sunnah untuk jenazah ini karena Alloh Ta’ala
14. Mengeringkan janazah dengan handuk, kemudian ditutup dengan kain.




Merawat Orang Yang Baru Saja Meninggal Dunia


Hal-Hal Yang Sunnah Dilakukan Terhadap Orang Yang Baru Saja Wafat, antara lain :  
1. Memejamkan kedua matanya, dengan cara mengusapkan telapak tangan ke mukanya secara halus dan lembut, sambil membaca  :

بِسْمِ اللَّهِ وَ عَلَى مِلَّةِ رَسُوْلِ اللَّهِ . اللّـٰهُمَّ اغْفِرْ لَهُ، وَارْحَمْهُ، وَارْفَعْ دَرَجَتَهُ فِي الْمَهْدِيِّينَ،

Dengan menyebut asma’ Alloh dan mengikuti millah (agama/tatacara) Rosululloh. Ya Alloh, ampunilah dia, rahmati dia dan tinggikan derajatnya bersama orang-orang yang memperoleh petunjuk
2. Merapatkan mulutnya yang masih “menganga” (terbuka), antara lain dengan cara  mengikatkan dagunya dengan kain selendang yang agak lebar ke atas kepala.
3.  Meluruskan dan melemaskan ruas-ruas tulang-nya. Misalnya dengan cara  mengolesinya pakai minyak, menggerak-gerakkan dan melekukkan tangan pada lengan, betis pada paha, paha pada perut , dan juga menggerakkan jari-jari tangan dan kaki.
4. Seluruh pakaian yang menempel dilepas, dan seluruh tubuhnya ditutup dengan kain.
5. Jenazah ditidurkan di atas dipan tanpa tikar, dengan menghadap ke arah kiblat. Diantaranya dengan cara :
a. Dibaringkan pada lambung kanannya dan wajah menghadap ke kiblat. Dalam hal ini, posisi kepala di utara dan kaki di selatan.
b. Dibaringkan pada lambung kirinya dan wajah menghadap ke kiblat. Dalam hal ini, posisi kepala di selatan dan kaki di utara.
c. Dibaringkan dengan cara terlentang membujur ke timur dan wajah menghadap ke arah kiblat. Dalam hal ini posisi kepala di arah timur dengan diberi alas bantal, dan telapak kaki di arah barat menghadap ke kiblat.
6. Mengasapi dengan bau-bauan yang harum,
7. Mensedekapkan tangan diatas lambungnya, bukan diatas dadanya. Hikmahnya sekalian berfungsi untuk menekan lambungnya agar tidak menggelembung.
8. Membacakan ayat-ayat Al-Qur’an, surat Yasin, bacaan tahlil dan kalimat thoyyibah lainnya.
9. Segera melunasi hutang-hutangnya dan melaksanakan wasiatnya
10.Disunnahkan segera menyelenggarakan tajhizul janazah (memandikan, mengkafani, mensholati dan memakamkan) bila dinyatakan benar-benar telah meninggal, karena dikhawatirkan berubah /membusuk
11. Disunnahkan berta’ziyah (melayat) kepada keluarganya, dengan tujuan untuk menghibur keluarganya agar tetap sabar dalam menghadapi musibah kematian.
12. Disunnahkan mengumumkan berita kematian kepada pihak sanak famili, sahabat, orang-orang sholeh, dan masyarakat umum, agar mereka bisa mendoakan kebaikan untuknya dan ikut memperoleh pahala dalam proses tajhizul janazah, seperti ikut mensholati, mengiringkan jenazah ke kubur, berta’ziyah, tahlilan, dll.
                                                                                                                                                                              






Merawat Orang Yang Sedang Naza' (Sakaratul Maut)



Ada beberapa hal yang sunnah dilakukan terhadap orang yang sedang naza’ (Menghadapi Sakarotul Maut) : 
1.  Mengajarkan dan mendorongnya untuk berbaik sangka (ber-husnuzhon) kepada Alloh
2. Menghadapkan wajah ke arah kiblat.
Muhtadhor sebaiknya dihadapkan ke arah kiblat. Hikmahnya adalah agar seseorang selama hidup dan matinya selalu dalam keadaan menghadap ke kiblat.
Ada beberapa cara menghadapkan orang yang naza’ ke arah kiblat. Diantaranya :
a. Dibaringkan pada lambung kanannya dan wajah menghadap ke kiblat. Dalam hal ini, posisi kepala di utara dan kaki di selatan.
b. Dibaringkan pada lambung kirinya dan wajah menghadap ke kiblat. Dalam hal ini, posisi kepala di selatan dan kaki di utara..
c. Dibaringkan dengan cara terlentang membujur ke timur dan wajah menghadap ke arah kiblat. Dalam hal ini posisi kepala di timur dengan diberi alas bantal, dan telapak kaki di barat.
3. Wanita haidh dan orang-orang yang berhadas besar sebaiknya tidak mendekat.
4.  Meneteskan air pada kerongkongannya. Terutama jika ada tanda-tanda dia meminta minum, karena akibat dari panasnya naza’ menyebabkannya merasa kehausan.
5. Membacakan ayat Al-Qur’an, terutama Surat Yasin (hikmahnya: agar ruh keluar dalam keadaan segar), dan dibacakan Surat Ar-Ra’du (hikmahnya: ruh keluar dengan mudah).
6. Menuntun (mentalqin) membaca Kalimat Tauhid  لَا إِلَهَ أِلَّا اللَّه”. 




Senin, 01 Januari 2018

ROTIB AL-ATTHOS, Amalan Wirid Habib Umar bin Abdurrahman Al-Atthos. (Al-Wafa’) *



رَاتِبُ الْعَطَّاسِ


اَلْفَاتِحَةُ بِنِيَّةِ قِرَاءَةِ رَاتِبِ العَطَّاسِ مِثْلَ مَا نَوَى نَبِيُّنَا مُحَمَّدٌ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَ عَلَى مَا نَوَى الْحَبِيْبُ عُمَرُ  بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْعَطَّاسِ صَاحِبُ الرَّاتِبِ وَالشَّيْحُ عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللهِ بَارَسْ وَ عَلَى مَا نَوَى سَلَفُنَا الصَّالِحُوْنَ أَنَّ اللهَ يُدخِلُ نِيَّاتِنَا فِي نِيَّاتِهِمْ وَ أَعْمَالَنَا فِيْ أَعْمَالِهِمْ وَ أَخْلَاقَنَا فِيْ أَخْلَاقِهِمْ وَ طَرِيْقَتِهِمْ بِالْقَبُوْلِ, وَ إِلَى حَضْرَةِ النَّبِيِّ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.   بِسِرَّ الْفَاتِحَةْ .....


بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ. الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ. الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ. مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ. إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ. اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ. صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّالِّينَ.
رَبِّ اغْفِرْ لِيْ وَ لِوَالِدَيَّ وَ لِلْمُؤْمِنِيْنَ. آمِيْنَ.
Bismillaahir-rahmaanir-rahiim. Alhamdulillaahi rabbil ‘aalamiin. Ar-rahmaanir-rahiim. Maaliki yaumiddiin. Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta-’iin. Ihdinas-shiraathal mustaqiim. Shiraathalladziina an’amta ‘alaihim, ghairil maghdhuubi ‘alaihim waladh-dhaalliin.
“Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam, Maha Pemurah lagi Maha Penyayang, Yang menguasai hari pembalasan. Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan ni`mat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” (QS al-Fatihah : 1-7)

أَعُوذُ بِالله السَّمِيْعِ الْعَلِيْمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ  (3 ×)
A’uudzu billaahis samii’il ‘aliimi minasy-syaithaanir-rajiim (Dibaca 3 x). 
Aku memohon perlindungan kepada Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui dari godaan syetan yang terkutuk.

لَوْ أَنْزَلْنَا هَذَا الْقُرْءَانَ عَلَى جَبَلٍ لَرَأَيْتَهُ خَاشِعًا مُتَصَدِّعًا مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ وَتِلْكَ اْلاَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ . هُوَ اللَّهُ الَّذِي لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ . هُوَ اللَّهُ الَّذِي لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلاَمُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ . هُوَ اللَّهُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ لَهُ اْلأَسْمَاءُ الْحُسْنَى يُسَبِّحُ لَهُ مَا فِي السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ.
Lau anzalnaa haadzal qur-aana ‘alaa jabalin lara-aitahuu khaasyi’an mutashaddi’an min khasy-yatillaah, watilkal amtsaalu nadhribuhaa linnaasi la’allahum yatafakkaruun. Huwalloo-hulladzii laa ilaaha illaa huwa ‘aalimul ghaibi was-syahaadati huwarrahmaanurrahiim. Hu-walloohulladzii laa ilaaha illaa huwal malikul qudduusus-salaamul mukminul muhaiminul ‘aziizul jabbaarul muta-kabbir, sub-haanalloohi ‘ammaa yusyrikuun. Huwalloohul khaaliqul baari-ul mushawwiru lahul asmaa-ul husnaa, yusabbihu lahuu maa fis-samaawaati wal ardhi wahuwal ‘aziizul hakiim.
“Kalau sekiranya Kami menurunkan Al Qur'an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir. Dia-lah Allah Yang tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Dia-lah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Dia-lah Allah Yang tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki segala keagungan, Maha Suci, Allah dari apa yang mereka persekutukan.Dia-lah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempu-nyai Nama-Nama Yang Paling baik. Bertasbih kepada-Nya apa yang ada di langit dan di bumi. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS al-Hasyr : 21-24).

أَعُوذُ بِاللهِ السَّمِيْعِ الْعَلِيْمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ  (3×)
A’uudzu billaahis samii’il ‘aliimi minasysyaithaa-nir-rajiim ( 3 x).
Aku memohon perlindungan kepada Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui dari godaan syetan yang terkutuk.

أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ.  (3×).
A’uudzu bikalimaatillaahit taammaati min syarri maa khalaq ( 3 x).
Aku berlindung dengan perantaraan kalimat-kalimatnya Allah yang sempurna dari kejahatan apa saja yang Dia ciptakan.

بِسْمِ اللهِ الَّذِي   لاَ يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْئٌ فِي الْأَرْضِ وَلاَ فِى السَّمَاءِ  وَ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ (3×).
Bismillaahilladzii laa yadhurru ma’as mihii syai-un fil ardhi walaa fis-samaa-i wahuwas-samii’ul ‘aliim (Dibaca 3 x). 
Dengan menyebut Asma’ Allah Yang tidak membahayakan bersamanya sesuatu pun di bumi dan tidak pula (sesuatu pun berbahaya) di langit. Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ وَ لاَحَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ العَلِيِّ الْعَظِيْمِ (10×).
Bismillaahir-rahmaanir-rahiim. Wa laa haula wa laa quwwata illaa billaahil ‘aliyyil ‘azhiim (10 x).
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Dan tiada daya dan tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (3×).
Bismillaahir-rahmaanir-rahiim (Dibaca 3 x).
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

بِسْمِ اللَّهِ تَحَصَّنَّا بِاللَّهِ, بِسْمِ اللَّهِ  تَوَكَّلْنَا بِالله (3×).
Bismillaahi tahash-shannaa billaah. Bismillaahi tawakkalnaa ‘alallooh (Dibaca 3 x).
Dengan menyebut nama Allah, kami membentengi diri dengan Allah. Dengan menyebut nama Allah, kami bertawakkal kepada Allah.

بِسْمِ اللَّهِ آمَنَّا بِاللَّهِ, وَ مَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ  لاَخَوفٌ عَلَيْهِ(3×).
Bismillaahi aamannaa billaah. Wa man yukmin billaahi laa khaufun ‘alaih (Dibaca 3x).
Dengan menyebut nama Allah, kami beriman kepada Allah. Barangsiapa yang beriman kepada Allah, maka tiada kekuatiran atasnya.

سُبْحَانَ اللهِ عَزَّ اللهُ, سُبْحَانَ اللهِ جَلَّ اللهُ (3×)
Sub-haanalloohi ‘azzallooh, Sub-haanalloohi jal-lallooh (Dibaca 3 x).
Maha Suci Allah, Maha Mulia Allah. Maha Suci Allah, Maha Agung Allah.

سُبْحَانَ اللهِ  وَبِحَمْدِهِ سُبْحَانَ اللهِ الْعَظِيْم  (3×).
Sub-haanalloohi wabihamdih, Sub-haanalloohil ‘azhiim (Dibaca 3 x).
Maha Suci Allah dan dengan segala pujian bagi-Nya. Maha Suci Allah Yang Maha Agung.

سُبْحَانَ الله وَالحَمْدُ لِلَّهِ وَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَ اللهُ أَكْبَرُ  (4×).
Sub-haanalloohi wal hamdulillaahi walaa ilaaha illalloohu walloohu akbar (Baca 4x).
Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah, tiada tuhan selain Allah, dan Allah Maha Besar.

يَالَطِيْفًا بِخَلْقِهِ, يَا عَلِيْمًا بِخَلْقِهِ, يَا خَبِيْرًا بِخَلْقِهِ, أُلْطُفْ بِنَا يَالَطِيْفُ يَا عَلِيْمُ يَا خَبِيْرُ (3×).
Yaa lathiifan bikhalqihii, Yaa ‘aliiman bikhalqihii, Yaa khabiiran bikhalqihii. Ulthuf binaa yaa lathiifu yaa ‘aliimu yaa khabiir (3 x).
Wahai Tuhan Yang Maha Lemah Lembut kepada makhluk-Nya. Wahai Yang Maha Mengetahui kepada makhluk-Nya. Wahai Yang Maha Waspada kepada makhluk-Nya. Berilah kami (perlakuan) lemah lembut-Mu, Wahai Yang Lemah Lembut, Wahai Yang Maha Mengetahui, WahaiYang Waspada. 

يَالَطِيْفًا لمَ يَزَلْ, أُلْطُفْ بِنَا فِيْمَا نَزَلَ, إِنَّكَ لَطِيْفٌ لمَ تَزَلْ, أُلْطُفْ بِنَا وَالْمُسْلِمِيْنَ (3×).
Yaa lathiifan lam yazal, ulthuf binaa fiimaa nazal. Innaka lathiifun lam tazal. Ulthuf binaa wal muslimiin (Dibaca 3 x).
Wahai Yang senantiasa bersikap lemah lembut, bersikap lemah lembutlah kepada kami pada apa saja turun. Sesungguhnya Engkau senantiasa Maha Lemah Lembut, maka bersikaplah lemah lembut kepada kami dan kaum muslimin.

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ (40×) .
Laa ilaaha illallooh (Dibaca 40 x).
Tiada Tuhan selain Allah.

مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ (1×).
Muhammadur-rasuulullooh.
Muhammad utusan Allah

حَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الوَكِيْلُ (7×).
Hasbunalloohu wa ni’mal wakiil (Dibaca 7 x).
Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَامُحَمَّدٍ, اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ (11×)
Alloohumma shalli ‘alaa Muhammad. Alloo-humma shalli ‘alaihi wa sallim (Dibaca 11x).
Ya Allah! Limpahkanlah rahmat ta’zhim kepada Muhammad. Ya Allah! Limpahkanlah rahmat ta’zhim dan kesejahteraan kepada beliau.

أَسْتَغْفِرُ الله (11×)تَائِبُونَ اِلَى الله (3×).
Astaghfirullooh (Dibaca 11 x). Taa-ibuuna ilallooh  (Dibaca 3 x).
Aku Mohon ampun kepada Allah. Orang-orang yang bertaubat kepada Allah.

يَاأَللهُ بِهَا, يَاأَللهُ بِهَا, يَاأَللهُ بِحُسْنِ الْخَاتِمَةِ (3×).
Yaa Alloohu bihaa, Yaa Alloohu bihaa, Yaa Alloohu bihusnil khaatimah (Dibaca 3 x).
Ya Allah, dengannya. Ya Allah, dengannya. Ya Allah, semoga dalam keadaan khusnul khatimah.

غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ .  لاَ يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلاَّ وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا, رَبَّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا, رَبَّنَا وَلاَ تُحَمِّلْنَا مَا لاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ, وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا, أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ.
Ghufraanaka rabbanaa wa ilaikal mashiir. Laa yukallifulloohu nafsan illaa wus’ahaa, lahaa maa kasabat, wa ilaihaa maktasabat. Rabbanaa laa tu-aakhidznaa inna siinaa au akhtha’naa. Rabbanaa walaa tahmil ‘alainaa ishran kamaa hamaltahuu ‘alalladziina min qablinaa. Rabba-naa walaa tuhammilnaa maalaa thaaqata lanaa bih. Wa’fu ‘annaa waghfir lanaa war-hamnaa. Anta Maulaa-naa fanshurnaa ‘alal qaumil kaafiriin.
“Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali". Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggu-pannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdo`a): "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma`aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir". (QS al-Baqarah : 285-286).


اَلْفَاتِحَةُ إِلَى رُوْحِ سَيِّدِنَا وَ حِبِيْبِنَا وَ شَفِيْعِنَا رَسُولِ اللهِ مُحَمَّدٍ بْنِ عَبْدِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَ آلِهِ وَسَلَّمَ, وَ أَصْحَابِهِ وَ أَزْوَاجِهِ وَ ذُرِّيَّتِهِ أَنَّ اللهَ يُعْلِيْ دَرَجَاتِهِمْ فِى الْجَنَّةِ وَ يَنْفَعُنَا بِأَسْرَارِهِمْ وَ أَنْوَارِهِمْ وَ عُلُوْمِهِمْ فِى الدِّيْنِ وَ الدُّنْيَا وَ الْآخِرَةِ, وَ يَجْعَلُنَا مِنْ حِزْبِهِمْ وَ يَرْزُقُنَا مَحَبَّتَهُم وَيَتَوَفَّانَا عَلَى مِلَّتِهِمْ وَ يَحْشُرُنَا فِيْ زُمْرَتِهِمْ.  بِسِرَّ الْفَاتِحَةْ .....

اَلْفَاتِحَةُ إِلَى رُوْحِ الْمُهَاجِرِ إِلَى اللهِ سَيِّدِنَا أَحمَدَ بْنِ عِيْسَى وَ إِلَى رُوْحِ  سَيِّدِنَا لْفَقِيْهِ الْمُقَدَّمِ بْنِ عَلِيٍّ بَا عَلَوِيِّ, وَ أُصُوْلِهِمَا وَ فُرُوْعِهِمَا وَ ذَوِى الْحُقُوْقِ عَلَيْهِمْ أَجْمَعِيْنَ. أَنَّ اللهَ يَغْفِرُ لَهُمْ وَ يَرْحَمُهُمْ وَ يُعْلِيْ دَرَجَاتِهِمْ فِى الْجَنَّةِ وَ يَنْفَعُنَا بِأَسْرَارِهِمْ وَ أَنْوَارِهِمْ وَ عُلُوْمِهِمْ فِى الدِّيْنِ وَ الدُّنْيَا وَ الْآخِرَةِ.  بِسِرَّ الْفَاتِحَةْ .....

اَلْفَاتِحَةُ إِلَى رُوْحِ سَيِّدِنَا وَ حِبِيْبِنَا وَ عُمْدَتِنَا صَاحِبِ الرَّاتِبِ قُطْبِ الْأَنْفَاسِ الْحَبِيْبِ عُمَرَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْعَطَّاسِ وَالشَّيْحِ عَلِيٍّ بْنِ عَبْدِ اللهِ بَارَسْ, وَ أُصُوْلِهِمَا وَ فُرُوْعِهِمَا وَ ذَوِى الْحُقُوْقِ عَلَيْهِمْ أَجْمَعِيْنَ. أَنَّ اللهَ يَغْفِرُ لَهُمْ وَ يَرْحَمُهُمْ وَ يُعْلِيْ دَرَجَاتِهِمْ فِى الْجَنَّةِ وَ يَنْفَعُنَا بِأَسْرَارِهِمْ وَ أَنْوَارِهِمْ وَ عُلُوْمِهِمْ فِى الدِّيْنِ وَ الدُّنْيَا وَ الْآخِرَةِ.  بِسِرَّ الْفَاتِحَةْ .....

اَلْفَاتِحَةُ إِلَى أَروَاحِ الْأَوْلِيَاءِ وَ الصَّالِحِيْنَ وَ الْأَئِمَّةِ الرَّاشِدِيْنَ, ثُمَّ إِلَى أَروَاحِ وَالِدِيْنَا وَمَشَايِخِنَا وَ مُعَلِّمِيْنَا وَ ذَوِى الْحُقُوْقِ عَلَيْهِمْ أَجْمَعِيْنَ. ثُمَّ إِلَى أَروَاحِ أَمْوَاتِ المُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ وَ الْمُؤْمِنِيْنَ وَ الْمُؤْمِنَاتِ. أَنَّ اللهَ يَغْفِرُ لَهُمْ وَ يَرْحَمُهُمْ وَ يُعْلِيْ دَرَجَاتِهِمْ فِى الْجَنَّةِ وَ يَنْفَعُنَا بِأَسْرَارِهِمْ وَ أَنْوَارِهِمْ وَ عُلُوْمِهِمْ فِى الدِّيْنِ وَ الدُّنْيَا وَ الْآخِرَةِ.  بِسِرَّ الْفَاتِحَةْ .....

اَلْفَاتِحَةُ بِنِيَّةِ الْقَبُوْلِ وَ تَمَامِ كُلِّ سُؤْلٍ وَ مَأمُوْلٍ وَ صَلَاحِ الشَّأْنِ ظَاهِرًا وَ بَاطِنًا فِى الدِّيْنِ وَ الدُّنْيَا وَ الْآخِرَةِ.  دَافِعَةً لِكُلِّ شَرٍّ, جَالِيَةً لِكُلِّ خَيرٍ لَنَا وَ لِوَالِدِيْنَا وَلِأَحْبَابِنَا وَلِمَشَايِخِنَا فِى الدِّيْنِ مَعَ اللُّطْفِ وَ الْعَافِيَةِ, وَعَلَى نِيَّةٍ  أَنَّ اللهَ يُنَوِّرُ قُلُوْبَنَا مَعَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَ الْعَفَافِ وَ المَوْتِ عَلَى دِيْنِ الْإِسْلَامِ وَ الْإِيْمَانِ بِلَا مِحْنَةٍ وَلَا اِمْتِحَانٍ بِجَاهِ سَيِّدِ وَلَدِ عَدنَانَ جَامِعَةً لِكُلِّ نِيَّةٍ صَالِحَةٍ وَ زِيَادَةً وَ مَحَبَّةً فِي شَرَفِ الْحَبِيْبِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ,  بِسِرَّ الْفَاتِحَةْ .....


الدُّعَاءْ بَعْدَ قِرَاءَةِ الرَّاتِبِ
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. حَمْدًا  يُوَافِى نِعَمَهُ وَ يُكَافِئُ مَزِيْدَهُ يَا رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِيْ لِجَلَالِ وَجْهِكَ وَ عَظِيْمِ سُلْطَانِكَ * سُبْحَانَكَ لَا نُحصِيْ ثَنَاءً عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيتَ عَلَى نَفْسِكَ * فَلَكَ الْحَمْدُ حَتَّى تَرْضَى وَ لَكَ الْحَمْدُ إِذَا رَضِيْتَ وَ لَكَ الْحَمْدُ بَعدَ الرِّضَى * أَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ فِى الْأَوَّلِيْنَ * وَ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ فِى الآخِرِيْنَ * وَ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ فِى الْمَلَإِ الْأَعلَى إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ *
وَ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ حَتَّى تَرِثَ الأَرْضَ وَمَنْ عَلَيْهَا وَأَنْتَ خَيْرَ الْوَارِثِيْنَ * أَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْتَحفِظُكَ وَ نَسْتَوْدِعُكَ أَدْيَانَنَا وَ أَنْفُسَنَا وَ أَمْوَالَنَا وَ أَهْلَنَا وَ كُلَّ شَيْئٍ أَعْطَيْتَنَا *  أَللَّهُمَّ اجْعَلْنَا وَ إِيَّاهُمْ فِيْ كَنَفِكَ وَ أَمَانِكَ وَ عِيَاذِكَ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ مَرِيْدٍ وَ جَبَّارٍ عَنِيْدٍ وَ ذِيْ عَيْنٍ وَذِيْ بَغْيٍ وَ ذِيْ حَسَدٍ وَمِنْ شَرِّ كُلِّ ذِيْ شَرٍّ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْئٍ قَدِيْرٌ *  أَللَّهُمَّ جَمِّلْنَا بِالْعَافِيَةِ وَ السَّلَامَةِ وَ حَقِّقْنَا بِالتَّقْوَى وَ اْلإِسْتِقَامَةِ, وَ أَعِذْنَا مِنْ مُوْجِبَاتِ النَّدَامَةِ فِى الْحَالِ وَ الْمَالِ وَ الْمَآلِ, إِنَّكَ سَمِيْعُ الدُّعَاءِ * وَ صَلِّ اللَّهُمَّ بِجَلَالِكَ وَجَمَالِكَ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِهِ وَ صَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ * وَارْزُقْنَا كَمَالَ المُـتَابَعَةِ لَهُ ظَاهِرًا وَ بَاطِنًا يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ, بِفَضْلِ سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ, وَ سَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ * وَ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ*


______________________________________

*) Teks Doa diambil dari kitab asli "Al-Wafa'",  'ala nafaqah Majlis Ya Robbi Maula Al-Wafa', lissayyid Ahmad Isma'il bin Abdullah al-Habsyi. 

Teks Berbahasa Jawa Bacaan TALQIN Untuk Mayit

بسمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ. لآاله الاّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاشَرِيْكَ لَهُ لَهُ المُلْكُ وَلَهُ الحَمْدُ يُحْيِى وَيُمِيتُ وَهُوَ ...